Jumat, 06 November 2015

Hidup


Pramoedya Ananta Toer pernah menulis sebuah kalimat menarik dalam sebuah bukunya "Dunia itu sederhana, yang sulit tafsir-tafsirnya", tafsir disini merupakan penerka-nerkaan manusia akan sesuatu hal atau masalah. kita sering menjadi sutradara yang menghubung-hubungkan masalah satu dengan masalah lain nya sehingga sering memunculkan teori-teori konspirasi ciptaan kita sendiri.

Hidup memang tak sesulit apa yang kita pikirkan. Masa depan ibarat tembok besar yang ada di depan kita, dimana kita tak tau apa yang ada dibalik tembok itu yang perlu kita lakukan adalah melawati tembok itu untuk mengetahui dibaliknya dengan kata lain kita harus menjalani hidup ini dengan sepenuh hati, sebaik mungkin dalam jalurnya dan menyerahkan nya kepada Sang Pemilik alam semesta ini (tawakal). kita hidup di daerah Timur dimana logika bukan hal pokok sebagai penentu kehidupan, terdapat hal-hal irasional yang tak bisa diukur oleh akal kita. Yakinlah bahwa Sang Sutradara dia atas sutradara ini (Re; Tuhan) memiliki skenario yang lebih indah dibandingkan dengan skenario ftv-ftv jaman sekarang. Mungkin Naif bagi saya yang baru berusia 24 tahun ini berbicara tentang hidup, tapi itulah gambaran hidup yang saya pikirkan. Ada pepatah jawa yang bilang seperti ini "Urip kuwi Urup" (hidup itu menyala/berarti) tinggal kita sekarang berarti baik atau buruk ?.

NEGRI KAUM MUNAFIK


Di sini..... dimana semua terasa samar, yang salah berubah menjadi benar dan kebohongan telah mengakar.
 Di sini..... dimana kepura-puraan menjadi hal yang lumrah dan titah bukan lagi sebuah amanah .
Di sini...... dimana si bajingan berlagak alim, si pemurung seolah-olah gembira dan si pembuat masalah berlagak bagaikan pemecah masalah.
Tapi di sini yang apa adanya justru mereka anggap berbeda, ini lah negri para munafik dimana terselip dosa dalam setiap barisaan doa.
R.RA.

Rabu, 08 Juli 2015

Menjadi Wanita (Semakin) Susah



Di era yang begitu bebas cenderung bablas ini saya rasa menjadi seorang wanita adalah sesuatu hal yang "semakin" susah, bukan berarti di jaman dahulu menjadi wanita itu mudah. Tidak. Sejak jaman dahulu menjadi seorang wanita bukanlah perkara yang mudah, untuk menjadi seorang wanita yang hakiki mereka harus mengorbankan waktu, tenaga serta kesabaran. 

Mereka (para wanita) juga harus melakoni peran dan kodratnya sebagai makmum secara tuma'ninah. Mereka harus melewati berbagi ujian selain ujian dari internal juga terdapat ujian dari eksternal, ujian dari luar ini adalah stigma masyarakat dimana masyarakat berfikir wanita adalah sosok suci, sehingga mereka harus pandai-pandai menjaga diri mereka. Mungkin bagi sebagian besar orang tak mempermasalahkan bila wanita keluar malam dan pulang pagi hari, tapi bagi beberapa orang itu adalah hal yang canggung dan akan menimbulkan banyak fitnah. 

Mereka juga harus pandai-pandai menjaga sikap mereka. Tertawa keras dibilang tidak sopan, berbicara keras dibilang judes. disini saya bukan menganjurkan untuk menuruti omongan orang-orang, karena tak akan ada habisnya bila mengikuti omongan orang-orang, disini saya hanya mengajurkan  agar mereka menjaga sikap karena sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah wanita solehah.

Selasa, 05 Mei 2015

Surat untuk Aku Kecil



Hai Rachmad "kiki" Rizkiarto kecil , ini aku dirimu pada usia 23 tahun. Saat ini diriku bisa dibilang tidak sukses untuk urusan pekerjaan dan akademisi. 
Aku paham betul dirimu adalah anak yang suka bercanda dan doyan main,  tapi ingatlah nak hidup tidak sebercanda yang kaupikirkan dan bermain terus hanya membuatmu bahagia di saat itu saja. 
Hai nak,  aku juga masih ingat betapa beraninya dirimu memilih pilihan hidupmu tanpa memikirkan pendapat orang tua, nak terkadang mendengarkan saran dan nasihat orang tua itu bagus juga lho nak.. tetapi sekali lagi keberanian mu untuk menerjang kerasnya tembok ego dan kediktaktoran ayahmu memang patut untuk diacungi jempol, dimana saudaramu yang lain bagaikan radio control yang dikendalikan oleh orang tua mu, namun kau memilih untuk berjalan di jalan yang ingin kau buat sendiri.

Aku juga masih ingat betapa mindernya dirimu saat dulu,  walau bisa dibilang kau adalah pusat perhatian dalam kelompok karena kekonyolan mu,  tapi jauh didalam hatimu aku tahu bahwa kau malu dengan bentuk fisik mu. Andai saja waktu  itu kau tahu bahwa rasa malu itu hanya akan membunuh prestasi mu,  mungkin saat ini ada beberapa prestasi yang telah kau dapat.
Nak..., aku melihat banyak potensi di dalam dirimu,  tapi sayang kau terlalu cepat puas dan kau hanya setengah-setengah dalam mengerjakan berbagai hal itu nak.
Kini tugas mu telah usai nak, tak perlu kau sesalkan apa yang telah terjadi....  sekarang tinggal tugas ku "Rachmad Rizkiarto dewas" untuk membuktikan bahwa pilihan mu tidak selalu salah.




TTD            


Rachmad Rizkiarto

Tak Bersama......


Tak bersama bukan berarti tak saling mencintai
Tak bersama bukan berarti tak saling menyayangi
Tak bersama hanyalah keadaan sementara,  dimana rindu terasa menggebu-gebu dan doa adalah kado paling mulia di saat raga tak bisa bertemu.
Tak bersama adalah suatu kondisi,  dimana jarak menjadi saksi munculnya cinta yang abadi.

Ini bukan tentang kita dan jarak, ini tentang kesetiaan dan komitmen kita....

Cie Galau..... hahahha

Selasa, 03 Maret 2015

AKHIRNYA

"jangan memilih pasangan hidup seperti memilih kucing dalam karung" itulah salah satu kalimat dari teman saya disela-sela perbincangan hangat kita tentang wanita.  Memang benar apa kata teman saya itu bahwa pasangan hidup adalah partner hidup kita kelak, bagaikan apotik dia selalu setia 24 jam bersama kita, maka dari itu untuk mencari partner seperti itu memerlukan kecermatan, ketelitian dan kehati-hatian layaknya menghitamkan jawaban di lembar kerja komputer (LJK). 

Bukan bermaksud untuk memilih-milih, karena saya sadar senajan aku ora buagus,  tapi saya juga harus selektif dalam mencari pasangan hidup. Bukan paras yang menjadi prioritas, bukan harta yang menjadi utama, tetapi jenis kelaminlah yang menjadi pertimbangan utama. Buat apa cantik kalau laki-laki??.

Sebagai lelaki yang karismatik dan ngangenin (ingat saya tidak ganteng, hanya saja karismatik dan ngangenin!), saya sadar bahwa mungkin banyak wanita diluar sana yang mengharapkan saya sebagai partner hidup mereka. tapi mungkin karena saya terlalu selektif dan masih dalam tahap penyembuhan "cedera hati"  pasca bertanding melawan kerasnya penolakan teletubies *tratak dung ceess (drum) seingga saya harus menolak semua permintaan menggiurkan itu. Tetapi itu semua telah berlalu, kini saya mulai bisa melanjutkan hari dengan senyuman itu karena sekarang ada sosok spesial di dalam hidup saya, bukan karena dia memiliki karet dua dan telur dadar di kepalanya sehingga dia disebut spesial. Dia spesial karena dia lah yang akan aku pilih menjadi partner hidupku kelak (AAMIIN *nada jumatan).

Bisa dibilang dia bukan lah tipe saya, tapi jika kalian bertanya sebaliknya ke dia, maka dia akan menjawab bahwa aku adalah tipe lelaki idaman nya *tsaaah, benerin rambut. Kami adalah teman satu kantor, dulu kami adalah musuh abadi di kantor, saya sangat membenci dia karena ada beberapa hal yang dia lakukan dan saya salah menafsirkan nya, begitu pula dia terhadap saya. Singkat cerita kami mulai berbicara dari hati kehati dan saling terbuka tentang alasan kami saling membenci. Dari hari kehari saya merasa "nyaman" jika bercerita dan bercanda bersamanya, rasa yang tidak saya dapatkan saat bersama wanita lain. Untuk itu saya beranikan diri untuk menembung nya menjadi calon partner hidup saya dan semoga itu benar-benar terwujud *AAMIIN dan semoga ditulisan saya kelak tak ada lagi tulisan tentang patah hati dan kesedihan hati, yang ada hanya kisah bahagia dan tulisan tentang pemikiran-pemikiran saya *AAMIIN.

 





Kamis, 20 November 2014

Mahasiswa dan Idealisme mereka




http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2014/10/4.foto-demo-bbm-versi-media-asing-boy-point_2178569k4.jpg

Sudah tak bisa di pungkiri bahwa mahasiswa selalu identik dengan demo,  mereka menganggap bahwa demo adalah jalan satu-satunya untuk menyampaikan pendapat dan aspirasi mereka. Dari pengalaman saya dulu sewaktu kuliah memang pada masa itu ialah masa yang berapi-api,  yang maunya menang sendiri walau salah tak peduliiii uwo uwooo darah mudaaa *malah nyanyi.

Demo memang merupakan salah satu cara penyampaian aspirasi mereka,  mungkin mereka ingin seperti para seniornya di tahun 98 yang tercatat sejarah, dimana ratusan ribu bahkan jutaan mahasiswa berbondong-bondong turun ke jalan melawan senapan dan pentungan dengan niat tulus dan ikhlas hanya semata-mata demi Indonesia yang lebih baik.  Tapi kini semua berbeda dimana niatan aksi (demo) mereka bukan lagi untuk Indonesia lebih baik melainkan karena diboncengi niatan-niatan tertentu mulai dari dibayar salah satu pihak, hanya untuk eksis,  hingga mandat dari sang senior. Bahkan tak khayal ada beberapa aksi (demo) yang mengangkat isu terkesan alakadarnya dan tidak masuk di akal. Di jaman saya kuliah dulu saya tak pernah dan tak mau untuk turun kejalan bukan karena saya tidak berani tapi karena niatan yang tidak sesuai.

Demo itu adalah jalan suci terakhir untuk menyampikan pendapat, bukan malah ajang sangar-sangaran dan eksistensi.  Dulu di tahun 98 para mahasiswa sebelum turun kejalan pada malam harinya melakukan rapat tentang teknis pada saat di lapangan, tetapi sekarang berbeda para mahasiwa sebelum demo dimalam harinya melakukan ritual khusus (mabuk),  mungkin mereka pikir dengan mabuk mereka jadi kuat dan percaya diri, eh bukan nya percaya diri malah bangun kesiangan dan batal demo hahahaha.

Disini saya bukan anti terhadap mahasiswa yang berdemo,  bahkan saya salut terhadap semangat dan daya juang kalian,  tetapi saya menyayangkan betapa bodohnya kalian yang berdemo dengan menodai niatan demo itu sendiri. Demo itu bukan ajang indonesian idol yang setelah nya menjadi eksis dan terkenal,  demo juga bukan ajang mencari pundi-pundi rupiah dengan menjual idealisme,  dan demo juga bukan ajang kepatuhan terhadap para senior.  Demo merupakan salah satu bentuk perlawanan.., dimana suara dan aspirasi kita dapat di dengar mereka di atas sana dan untuk menunjukan bahwa masih ada yang mengawasi kinerja mereka, untuk masalah eksis itu dampak bukan niatan dari demo itu sendiri.

Dimana idealisme mu nak?, sebagai penutup saya akan menuliskan sebuah puisi berjudul :

MAHASISWA?

Kau nodai keringat dan darah para seniormu... 
Kau gadaikan idealisme mu demi pundi-pundi rupiah...
Dan kau anggap Jihad ini sebagai ajang pamer... 
Duhai para MAHASISWA, teriak lah....  Teriaklah sekencang-kencang nya, berteriaklah tentang keadilan,  kemanusiaan dan tentang kerakyatan.  
Tapi  jangan kau lupakan ketuhanan dan persatuan dimana itu adalah pondasi terkuat untuk membangun negri ini.
HIDUP MAHASISWA...!!